Mengenal Megalomania Serta Cara Pengobatannya

Apakah Anda pernah mendengar istilah megalomania? Sebutan lain untuk megalomania adalah delusions of grandeur, suatu gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya haus kekuasaan.

Gangguan ini termasuk masalah kejiwaan yang cukup serius, sebab penderitanya tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Sehingga sering kali penderita megalomania merasa memiliki kekuasaan, kekayaan, atau kecerdasan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Biasanya, penderita megalomania akan menganggap dirinya kaya raya, selebritas, atau penemu yang hebat.

Seseorang dengan delusions of grandeur cenderung memprioritaskan dirinya dan menganggap rendah orang di sekitar, bahkan cenderung mengeksploitasi.

Sampai saat ini, penyebab megalomania belum diketahui secara pasti. Para ahli mengatakan bahwa adanya penyakit kejiwaan dalam keluarga, tidak seimbangnya neurotransmitter di otak, stres, kurang interaksi sosial, hingga penyalahgunaan narkoba, dapat menjadi pemicu megalomania.

Penyakit ini juga kerap muncul sebagai gejala dari gangguan mental lainnya, seperti bipolar dan skizofrenia.

Tanda-tanda megalomania

Beberapa tanda atau ciri utama dari megalomania adalah memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, self centered, kurang empati, juga delusi. Mereka delusi tentang kehebatan, superioritas, juga delusi mempunyai relasi dan kekuatan yang hebat. Seseorang dengan megalomania juga memiliki cara berpikir yang tidak masuk akal, mudah marah, selalu merasa benar, mood swing, serta suka membesar-besarkan sesuatu.

Jadi, dapat dikatakan bahwa megalomania merupakan bagian dari narsisme. Orang yang mengalami megalomania ingin semua hal berpusat pada dirinya.

Kasus yang cukup parah, orang dengan megalomania kadang menganggap dirinya sebagai pemimpin agama atau utusan Tuhan. Superioritas yang mengarah pada dirinya dan tidak mampu melihat kenyataan, menyebabkan hal tersebut. Mereka bahkan tidak segan menantang orang-orang yang menyatakan bahwa dirinya salah.

Dalam rangka memenuhi egosentrisnya, penderita megalomania tidak segan untuk memutarbalikkan fakta. Mereka juga, dengan berbagai cara, akan mempertahankan ide-ide yang dimiliki. Demi menjaga atmosfer tersebut, orang dengan megalomania lebih suka berkumpul dengan orang-orang yang tidak lebih pandai darinya.

Terapi bagi penderita megalomania

Tidak mudah untuk mengatasi penyakit delusi seperti megalomania ini, karena penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya menderita gangguan kejiwaan. Dan sering kali penderita delusions of grandeur menolak saat akan dilakukan perawatan.

Namun, bila Anda memiliki keluarga atau kerabat yang menderita megalomania, upayakan untuk mengajaknya berkonsultasi dengan profesional, dalam hal ini dokter spesialis kejiwaan.

Umumnya, dokter spesialis kejiwaan akan memberikan resep obat untuk mengatasi gejala psikotik serta depresi yang muncul. Tentu saja disesuaikan dengan kondisi pasien yang bersangkutan. Metode ini akan membantu penderita megalomania, namun tidak dapat menyelesaikan masalah seutuhnya.

Penderita megalomania juga perlu menjalani terapi kesehatan mental. Dengan menjalani terapi, diharapkan penderita delusions of grandeur ini dapat lebih mengenal dirinya sendiri.

Bila ia telah mengenal dirinya, harapan lebih lanjut, ia dapat menyadari ada yang keliru dengan perilaku narsisme yang ada pada dirinya. Sehingga muncul keinginan untuk mengubah perilaku dan mengatasi narsisme tersebut.

Pada dasarnya, manusia memang memiliki kecenderungan self centered, sebab semua orang memiliki ego. Namun bila ada tanda-tanda seperti di atas, mungkin Anda perlu waspada.

Tentu tidak disarankan mendiagnosis diri sendiri, sehingga bila Anda memiliki ciri-ciri delusi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan. Anda perlu tahu bahwa Anda tidak sendirian, masih ada orang yang sama-sama mengalami hal tersebut, sehingga Anda tidak perlu takut.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>