Category Penyakit

Diagnosa, Pengobatan, dan Pencegahan Leptospirosis dan Weil

Leptospirosis adalah sebuah tipe infeksi bakteri yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Anda dapat terjangkit infeksi ini ketika melakukan kontak langsung dengan urin, darah, ataupun jaringan tubuh hewan yang terinfeksi bakteri ini. Hewan-hewan yang biasa membawa penyakit ini seperti hewan ternak, babi, anjing, dan tikus.

Penyakit ini juga bisa ditularkan lewat media tanah dan air yang terkontaminasi. Penyakit leptospirosis biasanya akan menyebabkan gejala seperti flu ringan, misalnya saja pusing, demam, dan tubuh menggigil. Apabla bakteri ini menginfeksi organ tubuh lain, mungkin aka nada reaksi yang lebih parah. Organ-organ tubuh yang biasa terinfeksi leptospirosis seperti hati, ginjal, paru-paru, jantung, dan otak. Reaksi ini disebut dengan penyakit Weil. Dalam beberapa kasus, penyakit leptospirosis parah ini dapat menyebabkan kegagalan organ tubuh dan juga kematian. Apabila Anda menderita leptospirosis, dokter akan menawarkan antibiotik untuk pengobatan. Namun, apabila penyakit tersebut sudah berkembang menjadi penyakit Weil, Anda mungkin harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Diagnosa penyakit leptospirosis dan Weil

Apabila Anda terkena leptospirosis ringan, mungkin akan sedikit sulit bagi dokter untuk mendiagnosa penyakit tersebut. Karena gejala-gejala yang ditimbulkan leptospirosis ringan mirip dengan penyakit lain seperti flu. Sementara itu, penyakit Weil lebih mudah didiagnosa karena gejala yang ditimbulkan jauh lebih parah. Untuk membuat diagnosa, dokter akan mencari tahu riwayat kesehatan Anda. Beri tahu dokter apabila baru-baru ini Anda melakukan perjalanan, ikut dalam olahraga air, melakukan kontak langsung dengan sumber air, dan memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan hewan atau produk hewani. Apa bila dokter curiga mengidap leptospirosis atau infeksi bakteri lain, akan dilakukan tes darah atau tes urin atau bahkan keduanya. Staf laboratorium kemudian akan menguji darah dan urin apakah positif mengandung bakteri Leptospira atau tidak. Dalam kasus penyakit Weil, dokter akan melakukan pemindaian pencitraan sinar X dan tes darah lanjutan untuk memeriksa fungsi ginjal dan hati. Pemindaian dan tes ini juga akan membantu dokter untuk tahu organ-organ tubuh mana saja yang telah terinfeksi.

Pengobatan penyakit leptospirosis dan Weil

Dalam kebanyakan kasus, leptospirosis ringan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun apabila Anda didiagnosa mengidap penyakit Weil, Anda mungkin harus dirawat di rumah sakit. Perawatan yang didapatkan termasuk antibiotik untuk memperjelas infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit. Antibiotik yang sering digunakan termasuk penicillin dan doxycycline. Anda juga mungkin akan mendapatkan perawatan tambahan, tergantung dengan gejala yang ditimbulkan dan organ tubuh apa saja yang terinfeksi. Misalnya saja, apabila Anda memiliki masalah dengan pernapasan, Anda akan disambungkan dengan ventilator. Apabila ginjal Anda telah terinfeksi, Anda akan membutuhkan dialysis. Tanyakan langsung pada dokter mengenai nformasi seputar diagnosa, rencana pengobatan, dan pandangan mengenai penyakit yang Anda derita.

Apabila tidak diobati, penyakit Weil dapat menyebabkan gagal ginjal, gagal hati, dan gagal jantung. Dalam kasus tertentu, meskipun jarang, dapat menyebabkan kematian. Apabila Anda curiga mengidap penyakit Weil, segera hubungi dokter untuk mendapatkan antibiotik dan perawatan yang dibutuhkan.

Untuk mencegah penyakit leptospirosis, peneliti telah mengembangkan sejenis vaksin. Vaksin ini baru tersedia di beberapa negara seperti Kuba dan Perancis. Perlu diingat, vaksin ini hanya akan melindungi tubuh dari bakteri Leptospira bentuk tertentu, dan mungkin tidak akan memberikan kekebalan dalam jangka waktu yang lama. Apabila Anda bekerja dengan hewan atau produk hewani, gunakan pelindung seperti sepatu anti air, kacamata, dan sarung tangan untuk mengurangi risiko penularan.

Read More

Benarkah Menggunakan Hand Sanitizer Lebih Mampu Mencegah Flu?

pakai hand sanitizer

Teknologi dan penemuan yang semakin canggih membuat opsi kita semakin banyak juga. Kalau dulu kita dianjurkan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun, kini muncul hand sanitizer sebagai pengganti yang katanya lebih baik bahkan bisa mencegah flu. Benarkah demikian?

Hand Sanitizer untuk Mencegah Flu

Penggunaan secara rutin hand sanitizer alih-alih sabun dan air kemungkinan bisa mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan, mengurangi risiko sakit dan penggunaan anti biotik pada anak-anak. Sebuah studi di Spanyol melibatkan 911 anak di tempat penitipan anak mulai dari yang baru lahir sampai usia 3 tahun dilakukan untuk membuktikan hal tersebut.

Dalam kelompok kontrol, orang tua dan pengasuh anak diminta untuk menggunakan cara biasa membersihkan tangan.  Dalam dua kelompok lain, anak-anak diminta menggunakan hand sanitizer khusus dan satunya lagi mencuci tangan dengan menggukan air dan sabun saja.

Orang tua dan pengasuh diinstruksikan untuk menggunakan pembersih tangan atau mencuci tangan balita ketika mereka tiba di ruang kelas pada pagi hari, sebelum dan sesudah makan siang, setelah bermain di luar, setelah batuk, bersin, atau mengeluarkan sesuatu dari hidung anak, setelah mengganti popok dan sebelum mereka diantar pulang ke rumah. Pada kedua kelompok, mencuci tangan dengan sabun dan air adalah wajib setelah menggunakan toilet atau ketika tangan sangat kotor.

Hasil dalam kelompok yang menggunakan hand sanitizer secara signifikan lebih baik daripada kelompok yang menggunakan sabun dan air atau kelompok kontrol. Kelompok hand sanitizer memiliki tingkat infeksi pernapasan yang lebih rendah dan lebih jarang bolos sekolah karena sakit, dibandingkan dengan dua kelompok lainnya. Anak-anak dalam kelompok hand sanitizer juga cenderung tidak memerlukan resep antibiotik untuk infeksi pernapasan.

Orang tua atau penyedia jasa penitipan anak menghabiskan setidaknya 1.660 liter hand sanitizer selama studi dilakukan dalam 8 bulan. Berdasarkan data ini diperkirakan setidaknya setiap anak membersihkan tangannya sebanyak 8 kali dalam sehari.

Apa Kesimpulan yang Bisa Diambil dari Studi Ini

  • Penggunaan hand sanitizer pada balita terbukti bisa menurunkan risiko infeksi pernapasan dibanding mencuci tangan menggunaan sabun dan air saja
  • Anda harus menggunakan cairan pembersih tangan dalam jangka waktu cukup lama untuk melihat hasil yang signifikan
  • Pembersih tangan harus mengandung 70% etil alkohol untuk membunuh bakteri dan virus secara dengan sempurna. Beberapa jenis  bakteri menunjukkan toleransi terhadap jumlah etil alkohol yang lebih rendah.

Meskipun ini bisa menjadi bukti bahwa penggunaan cairan hand sanitizer lebih maksimal untuk membunuh kuman, mencegah flu secara maksimal bisa dilakukan dengan mencuci tangan secara rutin serta vaksinasi flu. Cara yang sama bisa mendatangkan manfaat juga untuk orang dewasa yang berisiko mengalami masalah pernapasan.

Read More

Setelah Gunung Meletus, Muncullah Debu Vulkanik yang Mengancam Kesehatan

bahaya debu vulkanik bagi kesehatan

Baru-baru ini Indonesia mengalami berbagai bencana alam, mulai dari banjir, longsor, hingga tsunami. Tsunami di akhir tahun 2018 silam terjadi karena adanya erupsi dari salah satu anak gunung paling aktif di dunia, yaitu Gunung Krakatau.

Erupsi gunung aktif bisa jadi efusif, di mana lava mulai mengalir atau meledak keluar – diikuti dengan lemparan batu, abu, dan gas. Dari sekian banyak material yang terlempar saat erupsi, debu vulkanik merupakan bagian yang paling sering terlempar jauh – dapat mencapai lebih dari 160 km – dan mengganggu kehidupan manusia.

Perlu disadari bahwa debu vulkanik mengandung beberapa senyawa berbahaya seperti CO (karbon monoksida), SO2 (sulfur dioksida), H2S (hidrogen sulfida), metana, dan lainnya. Secara umum, abu vulkanik ini bersifat iritan dan korosif, sehingga dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan, seperti pada kulit, mata, otot, dan saluran pernapasan. Berikut beberapa poin penting untuk menjaga kesehatan anak dan keluarga Anda dari debu vulkanik.

Risiko Bahaya Lebih Tinggi pada Anak-anak

Menurut penelitian, semakin muda usia seseorang, semakin cepat juga kecepatan bernapas mereka. Beberapa alasannya adalah karena tingkat keaktifan yang lebih tinggi dan mempunyai proporsi ukuran paru terhadap tubuh yang lebih besar. Maka dari itu, anak-anak dikatakan lebih sensitif terhadap debu vulkanik dibandingkan orang dewasa.

Material debu yang masuk melalui saluran pernapasan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan sehingga terjadi infeksi, yang dikenal dengan istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Gejala yang sering muncul adalah:

  • Bersin, pilek, beringus, dan sakit tenggorokan
  • Batuk kering, batuk dahak, mengi (napas berbunyi ngik-ngik)
  • Sakit dada atau sesak napas
  • Sakit kepala

Gangguan kesehatan dapat juga menjadi semakin parah apabila sebelumnya anak memiliki riwayat alergi saluran napas, bronkitis, asma, serta pada anak dengan gangguan jantung sejak lahir atau anak yang memiliki kelainan pada paru.

Hindari Dampak Negatif Debu Vulkanik dengan Cara Berikut

Mengingat jauhnya jarak terbang debu vulkanik, Anda dan keluarga mungkin harus mengungsi dari lingkungan yang terkena semburan debu. Jika mengungsi tidak dapat dilakukan, mungkin Anda harus melakukan beberapa hal ini agar tetap sehat:

  • Hindari menggunakan air dari sungai atau yang telah terbuka di luar rumah – debu bisa jadi telah mengontaminasi bagian tersebut.
  • Tutup ventilasi dan celah pintu, serta jendela untuk menghindari debu masuk ke rumah.
  • Jika Anda harus pergi ke luar, lindungi diri Anda dari debu yang jatuh. Kenakan masker yang menutupi hidung serta mulut dengan sempurna – seperti masker N95.
  • Hindari menyetir saat debu vulkanik banyak turun. Menyetir akan menyumbat mesin dan merusak kendaraan Anda.
  • Jika Anda memiliki masalah pernapasan, hindari kontak dengan debu. Tetaplah berada di dalam ruangan hingga badan pemerintahan menyatakan sudah aman untuk pergi ke luar.
  • Jangan naik ke atap untuk membersihkan debu, kecuali Anda pernah mengikuti pelatihan khusus. Jika Anda harus membersihkan debu, pastikan melakukannya dengan hati-hati karena debu dapat membuat permukaan atap menjadi licin.

Selain itu, pastikan Anda dan keluarga memberi pesan atau menggunakan media sosial untuk memberitahu bahwa Anda berada dalam kondisi baik-baik saja – sistem telepon mungkin akan sulit digunakan setelah bencana.

Read More

Hal Penting Seputar Keracunan Makanan yang Harus Anda Ketahui

keracunan makanan

Tahukah Anda jika ada banyak kasus keracunan makanan yang terjadi di masyarakat karena memakan makanan yang mengandung kuman, virus, atau parasit? Bahkan, di tahun 2017, tercatat terdapat 142 kasus keracunan makanan yang terjadi di Indonesia.

Perlu diketahui, orang dengan keracunan makanan biasanya akan bermula dengan gejala seperti mual, muntah, dan diare yang terjadi beberapa jam setelah makan. Tetapi terkadang gejalanya bisa memakan waktu berhari-hari atau bahkan lebih dari seminggu untuk muncul. Hal ini yang membuatnya sulit untuk mengetahui apakah gejala yang terjadi disebabkan akibat keracunan makanan atau sesuatu yang lain. Jeda waktu yang cukup lama juga membuatnya sulit untuk melacak gejala yang kembali muncul saat seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

Meskipun begitu, makanan yang sama dapat memberikan pengaruh yang berbeda pada tiap-tiap orang. Beberapa di antaranya mungkin langsung dapat merasakan gejala dan tubuh yang tidak beres setelah memakan beberapa gigitan. Tetapi, ada pula yang butuh waktu beberapa saat dan bahkan tidak bereaksi sama sekali.

Secara umum, keracunan makanan biasanya lebih umum dan berisiko bagi orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi dan anak kecil, wanita hamil, dan orang tua.

Bagaimana Keracunan Makanan Bisa Terjadi?
Keracunan makanan bisa disebabkan oleh adanya bakteri, virus, atau parasit di dalam sebuah makanan. Keberadaan bakteri, virus, dan parasit ini berpotensi ada dalam makanan pada tahap apa pun, baik itu saat masih mentah, dikemas, disimpan, atau dimasak.

Perlu diketahui juga ada beberapa jenis makanan tertentu yang cenderung mengandung kuman-kuman berbahaya. Di antaranya adalah telur mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, keju lunak, jus buah, dan daging/makanan laut mentah atau setengah matang.

Selain itu, risiko keracunan makanan juga akan semakin tinggi di musim panas atau kemarau. Pasalnya, di suhu yang panas, makanan bisa cepat rusak dan bakteri di dalamnya berkembang dengan sangat pesat. Jadi, pastikan untuk selalu mendinginkan bahan masakan atau sisa makanan yang tidak habis agar tidak cepat dihinggapi banyak kuman dan bakteri.


Apa Saja Penyebab Keracunan Makanan?
Pada dasarnya, Anda tidak akan pernah tahu persis apa yang menyebabkan sebuah makanan mengandung kuman berbahaya. Sebagian dari kasus keracunan makanan ringan kemungkinan besar akan dapat pulih dengan sendirinya. Kondisi keracunan makanan ini biasanya disebabkan oleh beberapa indikasi, seperti:

  1. Norovirus, atau yang juga sering disebut sebagai flu perut, menjadi penyebab dari setengah penyakit akibat makanan. Norovirus dapat membuat Anda sakit tidak hanya dengan memakan makanan yang terkontaminasi, tetapi juga dengan menyentuh benda-benda seperti gagang pintu dan permukaan lain yang terpapar kuman atau melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. Untuk menghindarinya, Anda harus memastikan diri untuk selalu membersihkan dapur jika ada seseorang di rumah Anda terjangkit penyakit ini. Biasanya diperlukan 12-48 jam hingga Anda merasakan gejalanya. Kemudian, gejala ini akan berlangsung selama 1-3 hari.
  2. Salmonella, yang merupakan nama dari sekelompok bakteri, biasanya tumbuh dalam telur dan daging yang dimasak setengah matang. Selain itu, salmonella juga dapat ditemukan pada susu, keju, dan produk olahan susu lain yang tidak dipasteurisasi. Bahkan, beberapa buah dan sayuran, seperti melon atau kecambah, juga bisa memilikinya. Gejala orang yang terinfeksi salmonella biasanya akan tampak dalam 1-3 hari dan keluhan dapat bertahan hingga seminggu.
  3. Clostridium perfringens adalah bakteri yang lebih cenderung muncul pada makanan disiapkan dalam jumlah besar, misalnya di kafetaria, panti jompo atau makanan katering untuk acara. Pada dasarnya, proses memasak dapat membunuh bakteri, tetapi tidak dengan sporanya. Tidak heran jika makanan yang dibiarkan berada dalam suhu ruangan berjam-jam akan memberikan kesempatan pada kuman untuk tumbuh dan berkembang lagi. Bakteri ini dapat berasa dari daging sapi, ayam, atau saus-sausan. Keluhan yang terasa antara lain perut yang mengalami kram dan diare. Gejala ini akan muncul selama 6-24 jam dan biasanya akan membaik dalam beberapa hari.
  4. Campylobacter berasal dari makanan olahan unggas yang kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, serta air yang tidak bersih. Mungkin diperlukan 2-5 hari untuk Anda merasakan gejala dari makanan dengan campylobacter. Namun, Anda akan membutuhkan waktu sekitar 2-10 hari hingga kembali membaik.

Penyebab Keracunan Makanan yang Lebih Serius
Selain itu, ada pula beberapa bakteri yang relatif jarang menimbulkan kasus keracunan makanan tetapi dapat membuat menimbulkan gejala serius saat menyebabkannya, bahkan tidak jarang sampai menyebabkan kematian. Bakteri-bakteri tersebut antara lain:

  • E. Coli, yaitu sejenis bakteri yang ditemukan berada pada usus hewan. Bakteri ini dapat berasal dari daging sapi giling yang dimasak kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, kecambah, atau makanan dan cairan apa pun yang bersentuhan dengan kotoran hewan.
  • Listeria, yaitu sejenis bakteri yang dapat tumbuh di suhu dingin seperti di lemari es. Bakteri ini dapat ditemukan dalam ikan asap, keju mentah (tidak dipasteurisasi), es krim, hot dog, dan daging deli. Wanita hamil dan sebagian orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dapat merasakan sakit akibat infeksi ringan dari listeria. Akan tetapi, sebagian orang yang terinfeksi listeria yang lebih serius (listeriosis) cenderung tidak menunjukkan gejala berarti selama seminggu atau bahkan beberapa bulan. Selain diare dan muntah, listeria dapat menyebabkan gejala yang tidak biasa, termasuk kelemahan, kebingungan, dan leher kaku. Infeksi bakteri ini juga bisa mematikan.

Itulah beberapa hal seputar keracunan makanan dan penyebabnya. Jika Anda merasa mengalami keracunan makanan, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Read More

Perawatan dan Pencegahan Sakit Tenggorokan pada Anak dan Orang Dewasa

perawatan pencegahan sakit tenggorokan

Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh virus. Artinya, antibiotik (obat-obatan yang digunakan untuk melawan infeksi bakteri) tidak akan membantu sakit tenggorokan lebih cepat sembuh.

Antibiotik akan berguna jika sakit tenggorokan itu karena radang (strep throat). Penyebab radang adalah bakteri, maka antibiotik bisa membantu. Jika anak kemungkinan menderita radang tenggorokan, segera bawa ke dokter untuk memastikan dan mendapatkan penanganannya.

Perawatan Sakit Tenggorokan

Jika sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, maka mau tak mau kita hanya berusaha meredakan gejalanya saja. Coba beberapa resep ini agar anak membaik:

Balita:

Pastikan anak banyak istirahat dan minum banyak cairan.

  • Gunakan humidifier atau pelembap ruangan.
  • Ajak dia menghirup uap air. Masukkan air panas dalam baskom, ajak anak menghadapkan wajahnya ke baskom. Sampirkan handuk ke atas kepala dan sekeliling baskom, agar uap tidak kemana-mana. Minta dia bernapas dengan mulut dan hidungnya selama 5-10 menit.
  • Ulang beberapa kali dalam sehari. Hati-hati, agar kulit tidak terbakar karena uap yang terlalu panas.
  • Beri dia es krim, agar meredakan tenggorokannya yang sakit, sekaligus mematikan kuman-kuman di tenggorokan.
  • Beri dia sup ayam yang hangat, atau teh hangat dengan madu. Tetapi jangan memberikan madu untuk anak di bawah usia 12 bulan.

Anak-anak

Minta dia berkumur dengan air garam hangat (1/4-1/2 sendok teh garam per cangkir)

Beri dia permen pelega tenggorokan atau permen keras yang sehat

Obat pilek yang dijual bebas bisa menurunkan gejala-gejalanya. Tetapi itu tak membantu meringankan penderitaannya dengan cepat. Sebelum memberi anak obat, sebaiknya hubungi dokter dan baca label obat dengan hati-hati.

Mencegah Sakit Tenggorokan

Ada beberapa cara agar sakit tenggorokan tak menghampiri Anda ataupun si kecil. Yang terpenting, jika Anda merokok, maka berhentilah merokok. Berilah lingkungan yang sehat kepada anak-anak dengan berhenti merokok.

Tetapi jika Anda tak merokok, jangan menjadi perokok pasif. Pastikan pasangan atau pun orang dekat Anda tidak merokok. Sebisa mungkin Anda atau keluarga menghindar dari asap rokok.

Selain itu, cobalah beberapa langkah untuk menghindari pilek dan flu di bawah ini. Karena hal-hal ini bisa memicu sakit tenggorokan:

  • Jangan berada dekat dengan orang yang sakit
  • Seringlah mencuci tangan
  • Jangan berbagi makanan, minuman, ataupun alat makan
  • Jauhkan tangan dari wajah dan mata
  • Makanan makanan yang sehat
  • Banyak beristirahat
  • Minum banyak air
  • Mendapatkan vaksin flu

Anda atau anak juga berisiko tinggi mengalami sakit tenggorokan jika menderita alergi atau GERD (gastroesophageal reflux disease). Alergi bisa mengganggu bagian tubuh manapun, termasuk tenggorokan. Sedangkan zat asam lambung yang diakibatkan GERD bisa mengiritasi area tenggorokan. Akibatnya Anda pun sakit tenggorokan.

Jika masalah-masalah ini ditangani, biasanya Anda tak akan sering menderita sakit tenggorokan. Konsultasikan dengan dokter jika Anda mempunyai masalah-masalah di atas.

Read More