Keracunan makanan tagged posts

Hal Penting Seputar Keracunan Makanan yang Harus Anda Ketahui

keracunan makanan

Tahukah Anda jika ada banyak kasus keracunan makanan yang terjadi di masyarakat karena memakan makanan yang mengandung kuman, virus, atau parasit? Bahkan, di tahun 2017, tercatat terdapat 142 kasus keracunan makanan yang terjadi di Indonesia.

Perlu diketahui, orang dengan keracunan makanan biasanya akan bermula dengan gejala seperti mual, muntah, dan diare yang terjadi beberapa jam setelah makan. Tetapi terkadang gejalanya bisa memakan waktu berhari-hari atau bahkan lebih dari seminggu untuk muncul. Hal ini yang membuatnya sulit untuk mengetahui apakah gejala yang terjadi disebabkan akibat keracunan makanan atau sesuatu yang lain. Jeda waktu yang cukup lama juga membuatnya sulit untuk melacak gejala yang kembali muncul saat seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

Meskipun begitu, makanan yang sama dapat memberikan pengaruh yang berbeda pada tiap-tiap orang. Beberapa di antaranya mungkin langsung dapat merasakan gejala dan tubuh yang tidak beres setelah memakan beberapa gigitan. Tetapi, ada pula yang butuh waktu beberapa saat dan bahkan tidak bereaksi sama sekali.

Secara umum, keracunan makanan biasanya lebih umum dan berisiko bagi orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi dan anak kecil, wanita hamil, dan orang tua.

Bagaimana Keracunan Makanan Bisa Terjadi?
Keracunan makanan bisa disebabkan oleh adanya bakteri, virus, atau parasit di dalam sebuah makanan. Keberadaan bakteri, virus, dan parasit ini berpotensi ada dalam makanan pada tahap apa pun, baik itu saat masih mentah, dikemas, disimpan, atau dimasak.

Perlu diketahui juga ada beberapa jenis makanan tertentu yang cenderung mengandung kuman-kuman berbahaya. Di antaranya adalah telur mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, keju lunak, jus buah, dan daging/makanan laut mentah atau setengah matang.

Selain itu, risiko keracunan makanan juga akan semakin tinggi di musim panas atau kemarau. Pasalnya, di suhu yang panas, makanan bisa cepat rusak dan bakteri di dalamnya berkembang dengan sangat pesat. Jadi, pastikan untuk selalu mendinginkan bahan masakan atau sisa makanan yang tidak habis agar tidak cepat dihinggapi banyak kuman dan bakteri.


Apa Saja Penyebab Keracunan Makanan?
Pada dasarnya, Anda tidak akan pernah tahu persis apa yang menyebabkan sebuah makanan mengandung kuman berbahaya. Sebagian dari kasus keracunan makanan ringan kemungkinan besar akan dapat pulih dengan sendirinya. Kondisi keracunan makanan ini biasanya disebabkan oleh beberapa indikasi, seperti:

  1. Norovirus, atau yang juga sering disebut sebagai flu perut, menjadi penyebab dari setengah penyakit akibat makanan. Norovirus dapat membuat Anda sakit tidak hanya dengan memakan makanan yang terkontaminasi, tetapi juga dengan menyentuh benda-benda seperti gagang pintu dan permukaan lain yang terpapar kuman atau melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. Untuk menghindarinya, Anda harus memastikan diri untuk selalu membersihkan dapur jika ada seseorang di rumah Anda terjangkit penyakit ini. Biasanya diperlukan 12-48 jam hingga Anda merasakan gejalanya. Kemudian, gejala ini akan berlangsung selama 1-3 hari.
  2. Salmonella, yang merupakan nama dari sekelompok bakteri, biasanya tumbuh dalam telur dan daging yang dimasak setengah matang. Selain itu, salmonella juga dapat ditemukan pada susu, keju, dan produk olahan susu lain yang tidak dipasteurisasi. Bahkan, beberapa buah dan sayuran, seperti melon atau kecambah, juga bisa memilikinya. Gejala orang yang terinfeksi salmonella biasanya akan tampak dalam 1-3 hari dan keluhan dapat bertahan hingga seminggu.
  3. Clostridium perfringens adalah bakteri yang lebih cenderung muncul pada makanan disiapkan dalam jumlah besar, misalnya di kafetaria, panti jompo atau makanan katering untuk acara. Pada dasarnya, proses memasak dapat membunuh bakteri, tetapi tidak dengan sporanya. Tidak heran jika makanan yang dibiarkan berada dalam suhu ruangan berjam-jam akan memberikan kesempatan pada kuman untuk tumbuh dan berkembang lagi. Bakteri ini dapat berasa dari daging sapi, ayam, atau saus-sausan. Keluhan yang terasa antara lain perut yang mengalami kram dan diare. Gejala ini akan muncul selama 6-24 jam dan biasanya akan membaik dalam beberapa hari.
  4. Campylobacter berasal dari makanan olahan unggas yang kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, serta air yang tidak bersih. Mungkin diperlukan 2-5 hari untuk Anda merasakan gejala dari makanan dengan campylobacter. Namun, Anda akan membutuhkan waktu sekitar 2-10 hari hingga kembali membaik.

Penyebab Keracunan Makanan yang Lebih Serius
Selain itu, ada pula beberapa bakteri yang relatif jarang menimbulkan kasus keracunan makanan tetapi dapat membuat menimbulkan gejala serius saat menyebabkannya, bahkan tidak jarang sampai menyebabkan kematian. Bakteri-bakteri tersebut antara lain:

  • E. Coli, yaitu sejenis bakteri yang ditemukan berada pada usus hewan. Bakteri ini dapat berasal dari daging sapi giling yang dimasak kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, kecambah, atau makanan dan cairan apa pun yang bersentuhan dengan kotoran hewan.
  • Listeria, yaitu sejenis bakteri yang dapat tumbuh di suhu dingin seperti di lemari es. Bakteri ini dapat ditemukan dalam ikan asap, keju mentah (tidak dipasteurisasi), es krim, hot dog, dan daging deli. Wanita hamil dan sebagian orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dapat merasakan sakit akibat infeksi ringan dari listeria. Akan tetapi, sebagian orang yang terinfeksi listeria yang lebih serius (listeriosis) cenderung tidak menunjukkan gejala berarti selama seminggu atau bahkan beberapa bulan. Selain diare dan muntah, listeria dapat menyebabkan gejala yang tidak biasa, termasuk kelemahan, kebingungan, dan leher kaku. Infeksi bakteri ini juga bisa mematikan.

Itulah beberapa hal seputar keracunan makanan dan penyebabnya. Jika Anda merasa mengalami keracunan makanan, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Read More