Pemeriksaan Telinga tagged posts

Jaga Fungsi Pendengaran dengan Melakukan Pemeriksaan Telinga

Dibanding organ tubuh lainnya, telinga tampaknya merupakan bagian yang jarang mendapat perhatian khusus. Padahal perannya dalam kehidupan kita jelas sangatlah penting.

Mungkin tidak banyak orang yang segera berkunjung ke dokter THT untuk melihat keadaan bagian dalam telinga dan gendang telinga, ketika telinganya bermasalah. Mungkin karena tidak merasakan urgensinya. Yuk, cari tahu kenapa pemeriksaan telinga ini penting!

Pentingnya pemeriksaan telinga

Pemeriksaan telinga dilakukan oleh dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan) untuk menilai kondisi di dalam lubang telinga serta kondisi gendang telinga. Dalam istilah medis, pemeriksaan ini juga disebut otoskopi.

Prosesnya dibantu dengan alat yang disebut otoskop, yaitu alat dengan ujung runcing yang disebut spekulum. Ukuran otoskop ini bervariasi dan dapat disesuaikan dengan ukuran lubang telinga pasien.

Tak hanya dapat disesuaikan dengan ukuran lubang telinga pasien, otoskop juga dilengkapi dengan lampu. Sehingga kondisi pemeriksaan telinga dapat dibuat terang dan dokter THT lebih mudah melihat keadaan bagian dalam telinga.

Secara umum, pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai atau mengevaluasi bagian dalam telinga dan gendang telinga. Tindakan ini sangat dibutuhkan bila pasien mengalami trauma kepala, gendang telinga pasien tertusuk atau robek, ada infeksi telinga, atau terjadi penurunan fungsi pendengaran. Ketika merasakan nyeri pada telinga atau telinga berdengung, Anda juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan telinga.

Prosedur pemeriksaan telinga serta interpretasi hasilnya

Sebetulnya prosedur pemeriksaan telinga relatif sederhana, dokter akan menarik daun telinga Anda ke belakang dan atas, seperti gerakan menjewer. Tujuannya, agar posisi lubang telinga lebih lurus, sehingga otoskop dapat dimasukkan dengan lebih mudah.

Bila ditemukan kotoran telinga selama pemeriksaan, dokter akan membersihkannya. Selanjutnya, dokter akan melihat kondisi bagian dalam lubang telinga dan gendang telinga.

Berdasarkan otoskopi tersebut, dapat diketahui apakah liang telinga dan gendang telinga pasien dalam keadaan normal atau tidak. Kondisi telinga pasien akan dianggap normal bila warna liang telinga sama seperti warna kulit di sekitarnya, sedang gendang telinga tampak putih terang atau keabu-abuan.

Sebaliknya, bila lubang telinga terlihat memerah dan bengkak, artinya ada kemungkinan infeksi. Lebih lanjut, jika terdapat nanah di belakang gendang telinga atau gendang telinga tidak memantulkan cahaya saat disorot oleh lampu otoskop, maka kemungkinan pasien mengalami infeksi telinga bagian tengah.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter THT tentu akan mengambil langkah lanjutan. Bila pemeriksaan telinga atau otoskopi dianggap sudah cukup untuk memperoleh diagnosis yang tepat, maka dokter THT akan memberikan terapi atau pengobatan sesuai dengan kondisi pasien.

Apabila otoskopi belum cukup untuk menegakkan diagnosis, maka dokter akan merekomendasikan serangkaian tes lanjutan. Tes yang biasanya disarankan, antara lain timpanometri dan akustik reflektometri.

Timpanometri dilakukan untuk memastikan adanya infeksi pada telinga bagian tengah. Sedang akustik reflektometri ditujukan untuk mengetahui seberapa baik kondisi gendang telinga dalam merefleksikan bunyi. Semakin banyak suara yang direfleksikan oleh gendang telinga, semakin tinggi pula tekanan di dalam telinga. Hal ini biasanya memicu gangguan pendengaran.

Kedua pemeriksaan telinga lanjutan tersebut tidak hanya disarankan ketika otoskopi belum bisa memberikan diagnosis yang definitive, tetapi juga saat terapi dianggap belum bisa meringankan keluhan pasien. Pada kondisi demikian, biasanya dokter THT akan menyarankan pemeriksaan lanjutan.

Sebagai sebuah prosedur pemeriksaan, otoskopi relatif aman. Namun, bila otoskop tidak dibersihkan ada risiko penyebaran infeksi.

Read More